Showing posts with label two-cents. Show all posts
Showing posts with label two-cents. Show all posts

Wednesday, May 6, 2020

VP Nonton #1: A Copy of My Mind, Love For Sale, and Love For Sale 2 (Part 2)

Aku udah bahas A Copy of My Mind di Part 1-nya post ini. Bisalah meluncur ke sana sekalian, yaa...
Di Part 2 ini, aku bahas Love For Sale dan Love For Sale 2 sekaligus, karena dua film ini memang kaya sepaket. Karena ada beberapa hal di film kedua yang berkaitan dengan film pertama, jadi berasa mending diceritain bareng, gitu.

VP Nonton #1: A Copy of My Mind, Love For Sale, and Love For Sale 2 (Part 1)

Firstly, ini bakal jadi review amatir.
Secondly, aku berusaha banget supaya nggak ada spoiler biarpun film-film ini bukan film baru.
Thirdly, reviewnya aku bagi jadi dua post supaya nggak capek bacanya.

#stayathome dan PSBB yang kelamaan akhirnya bikin aku berkesempatan buat nyoba nonton pake Netflix. Iya, baru sekarang pas nggak perlu mikirin besok mesti bangun subuh buat berangkat kantor.

Monday, April 27, 2020

5 Tips Minta Maaf


Apologizing used to be easy when I was far younger. Nggak berlama-lama juga. Seperti kata orang tua, "Kalau marah sama orang lain, jangan sampai matahari terbenam". And I always be the one who apologize first, no matter who started the fire.

Sunday, January 3, 2016

Dua Ribu Enam Belas

Hi again. It's been quite a while, ya.. *ngelirik tanggal post terakhir* Happy New Year, by the way. Kalo nggak salah, 2016 tahun Monyet Api. So I hope you'll be as hot as the fire but never get as ugly as a monkey.

Tuesday, October 14, 2014

VP's Song of the Week!


Jadi ceritanya, terdengar kabar kalau Payung Teduh bakal manggung bulan November nanti di kota tempat aku tinggal. I'm their fan since the first time I listen to them on SoundCloud, dan sekarang lagi menunggu banget jadwal pasti manggungnya mereka di sini. *I'm goin' to skip a workday in case they perform on Sunday night!*

Wednesday, October 8, 2014

Tiga Tangan Sang Waktu

Pagi tadi, seorang teman yang sudah agak lama aku tak mengobrol dengannya, menyapa lewat BBM. Katanya, dia kangen mengobrol denganku. Membaca pesannya membuatku tersenyum sendiri sambil memandang kosong pada monitor komputer di meja kerjaku.

Dulu, kami berlima. Ya, dekat, seperti model sahabat yang biasa kamu lihat di sinetron striping yang semua pemerannya sebenarnya sudah terlalu tua untuk tetap berseragam SMA. Setiap hari berbincang - lewat BBM, karena jarak membentang - tentang apa saja, tertawa, bahkan saling meledek tanpa menyaring bahasa. Saking biasanya dengan itu semua, sehari tanpa sapa terasa luar biasa hampa. Seperti itulah. Dan saat itu, kami pikir kami akan bersahabat seperti ini lama sekali.

Tuesday, July 8, 2014

"Imagine All The People Living Life in Peace.."

  
So, I posted this on my SoundCloud account yesterday. Karena aku orang yang selalu punya alasan di balik semua yang aku lakukan, milih lagunya John Lennon inipun jelas ada alasannya.

Monday, June 30, 2014

Utopia 1.0: Perbedaan Adalah Perhiasan.

Hari Minggu yang tidak terlalu berbeda dengan biasanya. Langit berwarna biru-kelabu saat aku tiba di terminal bus sore itu. Akan segera kutempuh lagi tiga jam perjalanan menuju kota tetangga tempatku bekerja. Lelah? Tidak. Rutinitas mingguan ini sudah kurang lebih tiga tahun kulakoni. Begitu terbiasanya, hingga aku yang tadinya tidak bisa bepergian tanpa menenggak obat anti mabuk, kini sudah tak ingat lagi rasanya mabuk darat.

Kalaupun ada yang berbeda, hanyalah bahwa hari ini adalah hari pertama bagi umat muslim untuk berpuasa. Tidak banyak pengaruhnya padaku, karena aku tidak berpuasa.

Sambil memasang headset - karena musik adalah teman setiaku mondar-mandir tiga tahun ini - kulirik sekilas seorang wanita berkerudung yang baru saja naik bersama seorang pria berbaju koko mengekor di belakangnya. Wanita itu memilih duduk di kursi sebelah yang kebetulan masih kosong. Pria yang tadi mengikutinya, mengulurkan sebotol air mineral. "Untuk buka puasa," ujarnya. Wanita itu lalu meraih tangan sang pria, kemudian menyalami dan mencium punggung tangannya.

Saturday, June 28, 2014

Your Smile, My Peace.

Dulu, seseorang sering menasehati aku dan berkali-kali bilang, "Make peace with yourself, V," dan itu salah satu hal yang sampai sekarang masih nempel kuat di kepala setiap kali aku mengingat dia. Well, I did what he told me, like tried to find my peace. Dan dulunya, damaiku adanya di dia.

But yeah, as we all know, life sucks, big time. We no longer talk to each other now. Jelas, karena dulu aku merasa menemukan damai dalam diri dia, damai itu juga jadi nggak bisa terasa lagi sejak dia menghilang. Situasi memaksa aku untuk mencari 'kedamaian' di tempat lain.

I should consider myself lucky or probably God was just having mercy on me, aku nggak perlu waktu lama untuk akhirnya sadar kalau aku bisa merasa damai setiap kali aku mengeksploitasi seniman abal-abal dalam diriku. I found peace when I sing, or when I play my guitar, or when I doodle something, on pictures I captured, or when I write short poetic sentences. Aku senang dan merasa tenang waktu kumanjakan pikiranku dengan membuat sesuatu.

Dan waktu banyak orang pada bingung mencari damai, pagi tadi kutemui lagi damai, dalam bentuk yang berbeda.